Calon Muda Ataupun Tua Toh Mirip-Mirip Saja

Calon Muda Ataupun Tua Toh Mirip-Mirip Saja

Hangat-hangatnya pilkada sudah mulai terasa ini. Di beberapa tongkrongan yang obrolan sudah berisi tentang calon A lagi ngapain, calon B kemungkinannya gimana. Kadang debatnya lebih awet panasnya dari pada kopi yang lebih cepat dinginnya. Tapi tongkrongan jenis apa sih yang ngobrolin soal recehan politik gini. Yah FYI aja sih ini tongkrongan isinya biasa isinya sekumpulan kawan-kawan lama, yang sebagiannya masih jomblo dan iri lihat temennya sudah punya anak yang lucu-lucu, dan sebagian lagi Ayah-ayah muda yang pamit meeting sambil iri lihat temannya masih bebas melajang.

Kita sih berharap hangat-hangat ini cukuplah jangan samoai terlalu panas seperti pilkada di Jakarta sana. Tokh orang sumut ini sudah terbiasa tidak berharap terlalu banyak pada negara. Kita sudah terlatih memilih gubernur untuk kemudian merelakannya “berkantor” di penjara. Bahkan tidak cukup 1 gubernur, 2 gubernur berturut-turut kita relakan menghabiskan masa jabatannya di hotel prodeo. Jadi kali ini tetaplah selow, kita masuki musim pilkada sambil saling ejek dengan kawan sambil menyeruput kopi sama-sama.

Ada hal yang selalu mengemuka, seolah-olah mengemuka, dalam tiap musim pilkada. Salah satunya adalah perlunya melahirkan pemimpin muda. Sebenarnya isu ini penting gak penting sih. Apalagi untuk kita disini yang percaya bahwa muda bukan lebih soal usia. Lihat saja OKP OKP di sumut ini dipimpin oleh pemuda berusia rata-rata 50 tahun ke atas. Kulit boleh keriput, frekwensi cuci darah boleh menyaingi frekwensi cuci rambut, tapi sepanjang semangat masih kobar, di sumut anda masih sah mengaku sebagai pemuda. Apalagi kalau dipadu padankan dengan seragam loreng dan baret, tsahh.

Nah karena batasan yang absurd tentang pemimpin muda ini, kita jadi bingung sebenarnya apa sih urgensi melahirkan pemimpin muda itu. Karena kalau ada calon gubernur muda, biarpun kulit masih kencang dan kenyal tapi imajinasi nya tentang membersihkan Sumut Cuma sebatas mengutip sampah disekitaran kolam taman, ang kita tau setiap hari ada petugas kebersihannya, maka kedangkalan seperti itu malah membuat keraguan membesar bahwa muda tak selalu unggul.

Apalagi kalau fenomena sosialisasi profil masih begitu-begitu saja metodenya, kumpulin warga, beri ceramah, lalu bagi-bagi amplop berisi recehan dan sepaket sembako yang habis dimasak maksimal 2 hari. Arghh c’mon sebagian besar warga sumut memang masih miskin tapi bukan butuh paket sembako juga keles. Buruknya kualitas infrasutruktur jalan tidak bisa dijawab dengan pembenaran bahwa jalanan rusak akan membuat pengguna jalan lebih berhati-hati sekaligus meningkatkan skill berkendara pengguna jalan. Buruknya kualitas pendidikan kita tidak bisa diatasi hanya dengan memasang spanduk Sumut paten, Sumut mantap. Tradisi mengirimkan gubernur kita ke penjara selama 2 priode berturut-turut bukanlah tradisi yang harus dilestarikan hanya supaya mensyahkan kita bisa berjalan dengan mode autopilot. Ehh tapi gubernur yang sekarang masih berkantor di JL. Diponegoro kan?

Nah dengan begitu banyak soal, sepertinya soal pemimpin muda atau tua bisa kita letakkan di nomor ke 42 prioritas kita dalam memilih gubernur. Karena yang muda juga akan beranjak tua. Apakah ada calon yang punya rekam jejak terbukti komitmen pengabdiannya.. rasanya kq seperti mimpi malam minggu sehabis kencan, terlalu indah.

Ya sudahlah yang penting kita tetap selow, tak perlu gara-gara pilkada kita copy paste yang di Jakarta sana. Tak perlu aksi bela sana bela sini. Karena rakyat lah yang sejatinya perlu dibela.

Oleh Irawanto
Pemerhati Sosial

COMMENTS