Aceh Utara – Banjir meluas di Kabupaten Aceh Utara pada Rabu 26 November 2025. Bupati Aceh Utara H Ismail A Jalil MM menginstruksikan seluruh jajaran terkait untuk mempercepat penanganan darurat. Koordinasi antara BPBD, perangkat daerah, tenaga kesehatan, camat, dan dinas sosial diminta berjalan tanpa hambatan agar evakuasi serta pelayanan warga terdampak bisa dilakukan dengan cepat.
BPBD Aceh Utara melaporkan kondisi terkini pada pukul 13.20 WIB. Sebanyak 18 kecamatan terendam banjir. Warga di sejumlah wilayah mulai mengungsi ke menasah, sekolah, dan rumah keluarga. Di Tanah Jambo Aye, air setinggi 30 sampai 80 sentimeter merendam 11 desa. Warga mengungsi ke posko di menasah desa.
Di Seuneddon, banjir merendam 20 desa dengan ketinggian air 30 sampai 80 sentimeter. Lahan pertanian seluas 200 hektare ikut tergenang. Lokasi pengungsian tersebar di menasah desa, SMA 1 Seuneddon, SD Ulee Rubek, serta sejumlah balai pengajian.
Di Langkahan, banjir sudah mencapai atap rumah. Abrasi di Dusun Pante Sejahtera menyebabkan satu rumah amblas ke sungai. Di Baktia, banjir merendam 36 desa dengan ketinggian air hingga 150 sentimeter. Seluruh warga telah mengungsi dan pendataan masih berlangsung.
Di Samudera, tanggul sungai di Desa Meucat terkikis dan longsor sepanjang 30 meter. Tanggul Krueng Pase juga jebol di beberapa titik. Air meluap ke rumah warga di Desa Paya Terbang, Tanjong Awe, Tanjong Hagu, dan Teupin Ara. Warga mengungsi ke menasah desa.
Di Syamtalira Aron, tanggul Krueng Pase di Gampong Teungoh terkikis dan berpotensi jebol. Di Baktia Barat, sejumlah warga mengungsi ke menasah dan gudang sawit. Di Lapang, banjir merendam sawah, tambak, serta lokasi pembuatan garam. Warga mengungsi ke menasah Desa Keureutou.
Di Dewantara, terjadi longsor di Dusun Alue Puntong. Satu rumah rusak berat. Di Matangkuli, ketinggian air mencapai 30 sampai 300 sentimeter. Di Banda Baro dan Lhoksukon, pendataan masih berlangsung. Tanggul Krueng Peuto di Gampong Menasah Krueng LT Batei 5 jebol dan merendam rumah warga.
Di Pirak Timu, Sawang, Nibong, Tanah Luas, Meurah Mulia, serta Muara Batu, banjir menyebabkan rumah terendam, jembatan putus, dan warga terisolir. Di Sawang, ketinggian air mencapai 3 sampai 4 meter. Warga dievakuasi dari atap rumah dan jembatan gantung penghubung ke Gandapura putus terbawa arus.
Total warga terdampak mencapai 4.451 jiwa atau 2.668 kepala keluarga. Jumlah pengungsi tercatat 3.507 jiwa atau 1.270 kepala keluarga. Terdapat 16 titik pengungsian. Korban kelompok rentan terdiri dari 15 ibu hamil, 373 balita, 148 lansia, dan 7 penyandang disabilitas. Kerusakan rumah meliputi 3 unit rusak berat, 17 unit rusak sedang, dan 6 unit rusak ringan. Sawah seluas 620 hektare serta tambak seluas 571 hektare ikut terendam. Kerusakan tanggul tercatat di 8 titik dan satu jembatan hilang terbawa arus.
Pemerintah Kabupaten Aceh Utara menyebut kebutuhan mendesak terdiri dari bantuan evakuasi, logistik masa panik, makanan pokok, serta alat berat untuk normalisasi aliran banjir.
Pada sore hari, arus deras masih terjadi di badan Jalan Line Pipa di Ujong Reuba, Meurah Mulia. Debit air meningkat akibat jebolnya tanggul Krueng Pase di Paya Terbang, Kitoe, Samudera, dan Ranto Blang. Hampir seluruh aliran Krueng Pase tergenang dengan ketinggian air sekitar satu setengah meter. Ratusan hektare tanaman padi siap panen ikut terendam.
Anggota Koramil 07 Meurah Mulia, Salamuddin, mengatakan banjir mulai meluas sejak dini hari. Titik jebol pertama terjadi sekitar pukul empat pagi di Gampong Ranto dan Kitoe. Luapan sungai kemudian merendam wilayah Samudera dan Meurah Mulia pada pukul delapan pagi.
Sejumlah wilayah terisolir seperti Blang Reuma Rato, Sara Maba, Lubok Tuwe, Bare Blang, Paya Sutra, dan Bare Tualang. Warga tidak bisa melintasi Jalan Line Pipa dari Meurah Mulia ke Tanjong Mesjid.
Lidan Ahmad, mantan mukim di Blang Manjroen, Syamtalira Bayu, menyebut banjir kali ini yang terparah. Ia mengatakan banjir kiriman dari Waduk Paya Reugon dan Buket Gajah Geureudong Pase datang pada malam hari. Warga terbangun karena air tiba tiba menggenangi lingkungan hingga setinggi lutut sampai 80 sentimeter.
Warga berharap pemerintah segera mengirimkan bantuan pangan karena akses menuju pusat kecamatan terputus dan kendaraan tidak bisa digunakan. (RM)





